BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebudayaan dapat diartikan sebagai semua hasil budidaya manusia, baik yang berbentuk materi maupun non material. Kuntjaraningrat (1981:193) mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat”. Kebudayaan juga dapat di artikan sebagai polo piker dan bertindak, yang merupakan commo heritage yang dimiliki oleh sutu kelompok masyrakat yang berbentuk kebiasaan-kebiasaan,nilai-nilai bahasa ide-ide, dan artifak.
Kontak antar budaya sebagai suatu produk dari budi daya manusia, maka kebudayaan bersifat dinamis, berkembang dan berubah. Perkembangan atau perubahan kebudayaan tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab, baik faktor dari dalam diri manusia sendiri maupun adanya kontak antar budaya, termasuk adanya akulturasi budaya
B. TUJUAN
Dari beberapa divinisi tersebut dapat dikemukakan bahwa kebudayaan itu merupakan sesuatu yang dilahirkan atau di ciptakan oleh manusia, karena kebudayaan sifat nya dinamis yang selalu berkembang dan berubah. Kebudayaan itu bukan merupakan suatu pembawaan, adanya karena diadakan oleh manusia, melalui suatu proses (socialisasi,pendidikan dll).
Kontak antar budaya telah terjadi sejak ribuan tahun sebelum masehi, seperti migrasi bangsa-bangsa cina daratan kenegri melayu (termasuk indonesia). Kontak antra budaya dapat berlangsung melalui pendidikan, perjalanan, pemukiman, perdagangan, dan penaklukan
BAB II PEMBAHASAN
A. Kebudayaan Manusia merupakan makhluk yang dilengkapi dengan berbagai perangkat hidup (potensi-potensi dan kapasitas ),yang digambar kan oleh Dryden & vos (2000) otak manusia adalah ibarat raksasa yang sedabg tidur. Dalam ajaran agama, nanusia disebut makhluk yang paling mulia/sempurna sempurna dibaandingkan makhluk laiannya. Dengan kelengkapan yang dimiliki manusia menjadi makhluk yang berbudaya. Kebudayaan lahir sebagai reaksi adanya tuntutan kebbutuhan hidup dan lingkungan. Dengan adanya tuntutan tersebut manusia mencipyakan sesuatu dengan budidayanya, sehingga melahirkan suatu kebudayaan. Kebudayaan dapat diartikan sebagai semua hasil budidaya manusia, baik yang berbentuk materi maupun non material. Kuntjaraningrat (1981:193) mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat”. Kebudayaan juga dapat di artikan sebagai polo piker dan bertindak, yang merupakan commo heritage yang dimiliki oleh sutu kelompok masyrakat yang berbentuk kebiasaan-kebiasaan,nilai-nilai bahasa ide-ide, dan artifak. Berry dkk (1999:324) mengutip pendapat linton yang secara sngkat mengatkan “budaya berarti keseluruhan bawaan social umat manusia”. Herkovists menyatakan budaya adalah “bagian buatan manusia yang berasal dari lingkungan manusia”. Dari beberapa divinisi tersebut dapat dikemukakan bahwa kebudayaan itu merupakan sesuatu yang dilahirkan atau di ciptakan oleh manusia, karena kebudayaan sifat nya dinamis yang selalu berkembang dan berubah. Kebudayaan itu bukan merupakan suatu pembawaan, adanya karena diadakan oleh manusia, melalui suatu proses (socialisasi,pendidikan dll). Kuncaraningrat (1981) Menyebut adanya tiga sistem kebudayaan, yaitu: 1. Sistem kebudayaan, yang merupakan kompleks ide-ide, gagasan yang menjadi sumber inspirasi dan orientasi, yang mengatur dan memberi arah dalam menghadapi masalah kehidupan manusia. Sistem budaya ini sering di sebut nilai budaya atau orientasi nilai budaya. Sistem budaya ini tidak dapat diraba dan diamati, ia terletak pada pemekiran sekelompok masyarakat. 2. Sistem social, yaitu tindakan berpola dari suatu kelompok masyarakat. Sistem social ini terdiri dari pola aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, serta bergaul satu dengan yang lain dari waktu ke waktu. Sistem ini dapat diobservasi, diamati, tetapi tidak dapat diraba. 3. Kebudayaan fisik, merupakan keseluruhan hasil fisik, perbutan dan karya manusia dalam sekelompok masyarakat. Oleh karena itu sifatnya paling kongkrit, dapat berupa benda-benda atau sesuatu yang dsapat diraba. Kebudayaan dapat dilihat dari berbagai tingkatan. Pedersen (1980) mengemukakan adanya tiga level analisis untuk mempelajari kebudayaan, yaitu yaitu tingkat internasional atau bangsa, tingkat etnis dan tingkat dalam etnis. 1. Kebudayaan tingkat internasional yaitu perbedaan budaya antar bangsa, yanag perbedaan nya sangat tampak, seperti budaya melayu, budaya cina, budaya india, budaya arab, budaya eropa dan sebagai nya. Kebudayaan tingkat internasional ini menurut Samuel hutington (1993) disebut peradapan, dimana ia membagi tujuh kelompok peradaban, yaitu Barat (Amerika-Eropa), Cina (konfusiu), Islam, Hindu,Slav/Ortodoks, dan Amerika latin, Afrika. 2. Kebudayaan tingkat kelompok etnis, yaitu perbedaan kebudayaan yang ada dalam satu kelompok etnis kebudayaan, seperti kebudayaan Indonesia, didalam nya ada budaya jaw,budaya minang, budaya bugis, budaya batak,budaya irian dan sebagai nya. 3. Kebudayaan yang satu etnis yang lebih halus adalah kebudayaan yang membedakan antar kelompok masyarakat dalam satu etnis/suku, seperti pada kebudayaan jawa dijumpai jawa kraton, jawa pesisir, jawa pedalaman dan sebagai nya. Dalam mengkaji budaya masyarakat, para ahli antropologi biasanya menitik beratkan pada kajain masyarakat tradisional, sedangkan kebudayaan masyarakat modern kurang begitu ditekankan. B. Kontak antar budaya Sebagai suatu produk dari budi daya manusia, maka kebudayaan bersifat dinamis, berkembang dan berubah. Perkembangan atau perubahan kebudayaan tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab, baik faktor dari dalam diri manusia sendiri maupun adanya kontak antar budaya, termasuk adanya akulturasi budaya. Kontak antar budaya telah terjadi sejak ribuan tahun sebelum masehi, seperti migrasi bangsa-bangsa cina daratan kenegri melayu (termasuk indonesia). Kontak antra budaya dapat berlangsung melalui pendidikan, perjalanan, pemukiman, perdagangan, dan penaklukan. Era informasi atau globalisasi dewasa ini mendorong pesatnya kontak antar budaya. Baik budaya lokal maupun budaya global. Kemajuan transpormasi dan alat informasi seperti telepon, TV, radio, internet, surat kabar dan sebagainya menjadikan peristiwa di satu belahan bumi, secara bersamaan dapat diketahui belahan bumi yang lain. Meskipun teknologi informasi telah mempermudah komonikasi manusia, namun orang masih ingin melakukan perjalanan ketempat lain (daerah,kota, negara lain) atau tinggal di daerah lain, entah karena alasan ekonomi,keluarga pendidikan dan sebagainya. Kesemua bentuk ini tidak dapat digantikan dengan kemajuan apapun dalam demensi informasi modern dalam abat-abat mendatang. Kontak antar budaya tidak saja terjadi antar dua budaya yang berbeda, antara satu bangsa dengan bamgsa yang lain, tetapi bisa pula terjadi antara satu-satuan budaya yang terdapat dalam satu negara atau wilyah yang memiliki tingkat heteroginis budaya. Dalam hal ini maka memungkinkan terjadinya asimilasi budaya, atau bahkan ketegangan-ketegangan budaya baik tingkat individu maupun kelompok. 1. Faktor-faktor terjadinya kontak antar budaya Kontak antar budaya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah: a. Faktor pendidikan Setelah perang dunia kedua, banyak pemerintah, yayasan di negara maju (Amerika dan eropa) memberikan kesempatan beasiswa kepada mahasiswa atau pelajar dari negara lain,khusus nya pada negara jajahan atau bekas jajahan nya. Disamping itu juga ada pogram pertukaran akademis antar negara. Mahasiswa yang belajar dari negara lain tersebut sudah barang tentu perlu penyesuaian dengan budaya baru,dan budaya baru tersebut sebagai nanatinya dibawa pulang ketanah airnya. b. Faktor migrasi Migrasi merupakan gejala manusia yang sudah sejek lama berlangsung, baik dalam bentuk imigrasi,transmigrasi, maupun urbanisasi. Migrasi ini umumnya di pengaruhi faktor ekonomi, dan juga politik. Dalam migrasi ini, para migran yang masuk kesuatu daerah baru membawa seperangkat budaya nya, yang mungkin berbeda dengan budaya masyrakat penerima. Dalam kontak tersebut disamping terjadi pembauran budaya, seringkali terjadi perenggangan budaya, karena penduduk asli tidak menginginkan budaya baru, sementara ada kecendrungan kelompok migran mempertahankan kebudayaan nya.hal ini tercermin adanya pola pemukiman yang terdiri dari kantung-kantung pemukiman(enclave)yang didasar kan pada budaya tertentu,seperti kampung”pecinan”,kampung pasar kliwon di solo(etnis keturunan arab)dsb. c. Bisnis/ perdagangan Mobilitas penduduk karena bisnis internasional/lokal telah berlangsung sejak dulu,seperti adanya”jalur perdagangan sutera”yaitu perdagangan dari timur tengah ke cina,perdagangan eropa dengan nusantara dan sebagainya.dewasa ini globalisasi bperdagangan ditandai dengan adanya berbagai kesempatan seperti AFTA,APEC dan sebagainya.arus barang,modal,jasa begiyu bebas bergerak dari satu bnegara ke negara lain. d. Bantuan internasional Dewasa ini peristiwa bantuan internasional, terutama pada negara-negara berkembang tertinggal begitu tampak banyak lembaga donor sepert: IMF, ADB, Bank Dunia, IDB, Pemerintahan lembaga di PBB, yayasan-yayasan donor dan sebagainya giat membantu masyarakat/negara yang memerlukan bantuan tsb dapat berupa keuangn, teknologi, manajemen kebudayaan, pendidikan, bahan makanan, obat-obatan, militer dan sebagai nya. Bantuan-bantuan tersebut seringkali mensyaratkan sesuatu termasuk aspek kebudayaan. e. Tourisme Pertumbuhan tourisme (domistik, manca) dapat dilukiskan sebagai banjir. Beberapa negara mengandalkan sektor peritiwa sebagai sumber devisa atau pemasukan utama negara. Di daerah tujuan wisata berdatangan dan berkumpul manusia berbagai suku, ras, atau berbagai latar belakang budaya. Disitulah mereka melakukan kontak budaya, baik turis maupun antar turis dengan pendudukan setempat. 2. Hasil kontak antar budaya Kebudayaan masyarakat dimanapun selalu mengalami perubahan. Terjadinya perubahan tersebut dapat disebabkan oleh masyarakat dalam kebudayaan itu sendiri, maupun dari pengaruh dari luar kebudayaan itu baik lingkungan alam, fisik, maupun budaya. Terdapat beberapa peristiwa perubahan kebudayaan. a) Cultural lag Cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan sebagai bagian dalam kebudayaan uatu masyarakat. Suatu bagian masyarakat mungkin telah memiliki tingkat perubahan yang tinggi ,sedang masyarakat lainnya masih jauh tertinggal. b) Cultural survival Yaitu suatu cara tradisional yang tak mengalami perubahan yang sejakn dulu sampai sekarang. Cultural survival dipakai sebagai penggambaran suatu praktek yang telah kehilangan fungsi pentingnya, yang tetap hidup semata-mata hanya di atas landasan adat-istiadat semata. c) Cultural conflict Yang terjadinya pertentangan antar kebudayaan. d) Cultural shock (guncangan kebudayaan) Yaitu terguncangnya seorang karena kebudayaan, yaitu tatkala mereka dalam lingkungan budaya yang baru dimasuki. Kontak antar budaya akan menghasilkan dampak budaya struktur sosial masing-masing, rangkain institusional yang ada, proses-proses politisi dan sistem nilai masyarakat yang terkena kontak ini. Setelah berakhirnya perang dingin, untuk menjelaskan fenomena yang ada, semuel huntington (1993) melihat ada nya kecenderungan konflik peradaban timur (islam dan konfusius). Konflik-konflik yang mendasa dari politik global akan terjadi diantara kelompok-kelompok yang berbeda peradaban. Dalam menghadapi kontak antar budaya (akulturasi kebudayaan), terdapat berbagai sikap, sehingga kontak antar budaya tersebut menghasilkan efek yang berbeda-beda. Kuntjaraningrat (1990; 112-113) menandai adanya sebagian masayrakat yang mengalami kesulitan bahkan penolakan / penghindaran terhadap berakalturasi. Mithos “ratu adil” adalah salah satu bentuk penolakan terhadap akulturasi, dimana masyarakat tidak mampu menyusun kekuatan untuk menentang atau menghentikan akultuirasi, maka mereka mencari kepuasan batin dengan menarik diri dari kehidupan masyarakat yang nyata, diantaranya keyakinan akan datangnya “ratu keadilan”. Gerakan ratu adil itu umumnya memiliki empat aspek penting, yaitu ; a. Aspek keagamaan, karena gerakan-gerakan biasanya disiarkan oleh seorang guru atau tokoh agama, yang bertindak sebagai pesuruh Tuhan atau Desa dan gerakan ini biasanya berpusat pada ucapan keagamaan. b. Aspek psikologi, karena dalam upacara yang diselenggarakan, pra anggota menunjukkan batin mereka pada alam khayal. c. Aspek ratu adil, karena dalam alam khayal tadi para pengikut gerakan menggu dan mengharap datang nya seorang tokoh raja atau pemimpin yang adil. d. Aspek keaslin budayanya,karena ratu adil diharapkan membawa kebahagiaan, dengan jalan mengembalikan adat asli warisan nenek monyak yang dikacaukan oleh pengaruh jaman baru. Kontak antar budaya menghasilkan dampak, baik secara kelompok maupun secara individu. a Efek kelompok Kontak antar budaya akan menghasilkan pengaruh secara kelompok, sebagai hasil dari suatu kontak budaya antar kelompok-kelompok, semua pengaruh tersebut mengarak ke bentuk prilaku kolektif, dimana keterlibatan orang secara kelompok merupakan ciri utama dari keterlibatan seseorang. Efek secara kelompok tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam empat katagori, yaitu: Pemusnahan Assimilasi Segregasi Integrasi b Efek individual Hasil suatu kontak budaya di samping memiliki dimensi kelompok, juga memiliki dimensi individual. Dampak individual ini lebih dilihat pengaruh kontak budaya pada orang per orang, yang sifat nya cendrung dalam kontak antar budaya, yaitu: Pasing Chauvinistic Marginal sindrom Mediating persons BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kontak antar budaya tidak saja terjadi antar dua budaya yang berbeda, antara satu bangsa dengan bamgsa yang lain, tetapi bisa pula terjadi antara satu-satuan budaya yang terdapat dalam satu negara atau wilyah yang memiliki tingkat heteroginis budaya. Dalam hal ini maka memungkinkan terjadinya asimilasi budaya, atau bahkan ketegangan-ketegangan budaya baik tingkat individu maupun kelompok. B. Saran Semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi pembaca dan memberikan informasi tentang kontak antar budaya yang bisa kita pelajari dan dapa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua. DAFTAR PUSTAKA Ali Saifullah. (1982). Pendidikan, pengajaran dean kebudayaan. Surabaya: usaha nasional. Berry,Jhon W., Poortinga, Ype H, Segall, Marshal H., & Dasen, Piere R.(1999). Psikologi Lintas Budaya (terjemahan). Jakarta : Gramedia. Dryden, Gordon & Vos, Jeannette. (2000). Revolusi Cara Belajar (terjemahan). Bandung : Kaifa. Handarini Danny M. (1997). Konseling Lintas Budaya. Makalah dalam kongres dan Konvensi IPBI di purwokerto. Huntington, P. Samuel. (1993). Benturan Antar Pearadapan, Masa Depan Politik Dunia? (terjemahan Saiful Mujani) dalam jurnal Ulumul Qur’an No. 5 Vol. 14, hal 11-25. Hariyana, P. (1992). Kultur Cina Dan Jawa. Jakarta : Sinar Harapana. Kitano H.L. Harry, Maki T. Mitchel. (1996). Cotinuity, chenge and diversiti : Conseling Asian Americans. Dalam Counseling Across Culture (Pederen, dkk Edit). California: Sage Publishing. Kuntjaraningrat. (1981) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia. Kunjaraningrat. (1980). Sejara Teori Antropologi II, Jakarta : universitas Indonesia. Kusdiantinah, Sri. (1989). Pendidikan dan Pengajaran Untuk Masa Depan Dalamn Ilmu dan Budaya. Jakarta :Unas Rose, P.I. Glazer M. Dan Glazer, P.M. (1982). Sociology Inquiring to Society. New York : St. Martin Press. Sulaiman Munandar M. (1992). Ilmu Budaya Dasar. Bandung : Erosco. Tofler Alvin. (1983). The Thitth Wave. London : Pan Books. Yusmar Yusur. (1991) Psikologi Antar Budaya. Budaya. Badung : Remaja Rosda Karya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar